Tuesday, May 19, 2009

selesai


payah btul rupenya nak buat passport..mcm2 urusan yg perlu dilakukan..pada mulanya pergi ke jabatan pendaftaran..n then pegi ke jabatan imigresen..sampi disne ic plak masalah..mmag cepat btul ic nie rosaak..lpas nie krajaan perlu mengkaji semula tentang ic..kate bermutu..owg pki x sampi 3 blan dah rosak..smbg plak cite..lpas tu kene watla ic baru..kene tunggu lagi..ak berfikir..ya allah begitu payah nk selesaikan urusan nie..dlm hati ak berdoa rabbim yassir wala tu3Sirr..ya allah permudahkanlah urusanku dan jangan la engkau susahkan..lpas siap ic sementara pegi balik jabatan imigresn ..pegi disne pegawai disne memberitahu ak blum cukup 18 tahn kerana ak blm cukup 18..krne bln 12 bru cukup..trpkse kene panggil abah..satu masalah lagi...terime je la..n then abah dtg..kene cop jari n tndtgn,,,siap passport dalam pkul 5.00..alhamdulilah siap akhirnya n ak jge dapat pengurangan harga sebnyak 50%...jadi kene bayar rm150 jela...
bru ak terfikir bkan senang nk pegi luar negara nie..mcm3 prosedur kene buat...
p/s.jd,ikut jela prosedur,,nk wat cmner

Sunday, May 17, 2009

menuntut ilmu..?

menuntut ilmu.. cabaran dari dalam diri
Ilmu adalah cahaya yang dikarniakan Allah kepada manusia. Tidak diragukan lagi kedudukan orang yang berilmu disisi Allah adalah lebih tinggi beberapa derajat. Hanya orang-orang yang berilmu & berakal lah manusia dapat memahami kebesaran Allah melalui penciptaan alam semesta beserta segala isinya.

Demikian mulia kedudukan orang yang berilmu sehingga Rasulullah meriwayatkan dalam sebuah hadis :

“Barangsiapa yang berjalan menuntut ilmu maka Allah mudahkan jalannya menuju syurga. Sesungguhnya malaikat akan membuka sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha dengan apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya seorang yang mengajarkan kebaikan akan dimohonkan ampun oleh makhluk yang ada di langit maupun di bumi hingga ikan yang berada di air. Sesungguhnya keutamaan orang alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan di atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama itu pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar, tidak juga dirham, Yang mereka wariskan hanyalah ilmu. Dan barangsiapa yangmengambil ilmu itu, maka sungguh, ia telah mendapatkan bahgian yang paling banyak. (1)

Siapa kah orang yang tidak mau di doakan oleh malaikat dan makhluk-makhluk Allah yang ada di bumi?? Sungguh hal tersebut adalah suatu kemuliaan yang besar.

Seperti kata pepatah “No pain, no gain” (tidak ada yang akan kita dapatkan tanpa pengorbanan) , maka untuk mencapai kemuliaan yang bernama ilmu itu pasti ada cubaan yang harus kita hadapi..

Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat menghalangi sampainya kemuliaan ilmu kepada seseorang :

1. Niat yang rosak

Niat adalah dasar dan rukun amal. Apabila niat itu rusak maka rusaklah seluruh amalannya. Sebagaimana sabda Rasulullah “Amal itu tergantug niatnya, dan seseorang akan mendapatkan apa yang diniatkan…” (2)

Imam Malik bin Dinar (wafat th.130 H) rahimahullah mengatakan,”Barangsi apa mencari ilmu bukan karena Allah Ta’ala maka ilmu itu akan menolaknya hingga ia dicari hanya karena Allah.”

2. Ingin Terkenal dan Ingin Tampil

Coba kita ingat mungkin terkadang saat kita belajar terbersit di hati kita “Supaya jadi rangking 1 atau jadi juara umum dan dikenal orang?? Ya, ingin terkenal dan ingin tampil adalah penyakit kronik. Tidak seorang pun yang bisa selamat darinya kecuali orang-orang yang dijaga oleh Allah Subhana Wa Ta’ala. Hal itu lebih dikenal dengan sebutan riya. Rasulullah sangat mengkhawatirkan adanya penykit ini pada umatnya. Karena seringkali penyakit itu halus hingga muncul tanpa kita sadari, hingga Rasulullah mengibaratkan bahwa penyakit riya itu seperti semut hitam, di batu hitam pada malam yang gelap. Bayangkan, hampir tak kelihatan kan?? So, be careful…

Rasulullah bersabda,”….sesuatu yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah kesyirikan dan syahwat tersembunyi.” (3)

Mahmud bin Ar-Rabi berkata : “syahwat yang tersembunyi maksudnya adalah seseorang ingin / senang apabila kebaikannya dipuji oleh orang lain. Hendaknya kita behati-hati terhadap penyakit ini, karena Allah memperingatkan dalam sebuah hadis yang disampaikan oleh Rasulullah Salallahu’alaihi Wassallam :

“Barangsiapa yang menyiarkan amalnya, maka Allah akan menyiarkan aibnya. Dan banrangsiapa yang beramal karena riya maka Allah akan membuka niatnya di hadapan manusia pada hari kiamat.” (4) Naudzubillahi mindzalik.

3. Lalai Menghadiri Majlis Ilmu

Jika kita tidak memanfaatkan majlis ilmu yang dibentuk dan pelajaran yang disampaikan, niscaya kita akan gigit jari sepenuh penyesalan. Kalau kebaikan yang ada di majlis ilmu hanya berupa ketenangan dan rahmat Allah yang meliputi mereka, maka dua alasan itu saja seharusnya sudah cukup sebagai pendorong untuk menghadirinya. Apalagi jika seseorang mengetahui bahwa orang yang menghadiri majlis ilmu –insyaAllah- mendapatkan dua keberuntungan, yaitu ilmu yang bermanfaat dan ganjaran pahala di akhirat!

4. Beralasan dengan banyaknya kesibukan

Alasan ini seringkali dijadikan syaitan sebagai alasan menjadi penghalang dalam menuntut ilmu. Coba dihitung, Allah memberikan kita 24 jam, 8 jam untuk bekerja, 8 jam untuk istirihat, masih ada 8 jam lagi… apa yang selama ini telah kita lakukan untuk memanfaatkan sisa waktu itu???

5. Menyia-nyiakan kesempatan belajar di waktu kecil.

Allah Ta’ala berfirman : ”Dan beribadahlah kepada Rabb-mu hingga datangnya kematian.” (QS.Al-Hijr : 99)
Karena itu, mari kita semua para remaja, maupun orang tua, laki-laki maupun wanita, kita bertaubat pada Allah Ta’ala atas apa yang telah luput dan berlalu. Sekarang, kita mulai menuntut ilmu, menghadiri majlis ta’lim, belajar dengan benar dan sungguh-sungguh dan menggunakan kesempatan sebaik-baiknya sebelum ajal tiba.

Ketika ditanya pada Imam Ahmad, ”Sampai kapankah seseorang harus menuntut ilmu?” Beliau pun menjawab ”sampai meninggal dunia.”

6. Bosan dalam menuntut ilmu

Diantara penghalang menuntut ilmu adalah merasa bosan dan beralasan dengan berkonsentrasi mengikuti peristiwa yang sedang terjadi. Ilmu yang kita cari seharusnya mendorong kita untuk mengetahui keadaan kita sendiri. Kita tidak akan bisa mengatasi berbagai masalah dan musibah yang menimpa kecuali dengan meletakkannya pada timbangan syariat. Seorang penyair mengatakan : ” Syariat adalah timbangan semua permasalahan dan saksi atas akar masalah dan pokoknya” (5)

Bosan itu adalah penyakit. Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit melainkan ada obatnya. Tidaklah musibah terjadi melainkan ada penyelesaiannya dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Oleh karena itu, kita harus melawan rasa bosan yang terkadang timbul saat kita belajar. Belajarlah sampai Anda mendapatkan nikmatnya ilmu.

7. Menilai Baik Diri Sendiri

Maksudnya adalah merasa bangga apabila dipuji dan merasa senang apabila mendengar orang lain memujinya.

Allah TA’ala berfirman : ”Maka janganlah kamu merasa dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm : 32)

8. Tidak Mengamalkan Ilmu

Tidak Mengamalkan Ilmu merupakan salah satu sebab hilangnya keberkahan ilmu. Allah Ta’ala benar-benar mencela orang yang melakukan ini dalam firmanNya : ”Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan hal yang tidak kamu perbuat. Amat besar kebencian Allah bahwa kamu mengatakan apa saja yang tidak kamu kerjakan (QS.Ash-Shaff : 3)

9. Putus Asa dan Rendah Diri

Allah berfirman : “Dan Allah mengeluarkankamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl : 78)

Putus Asa dan Rendah Diri adalah salah satu penghalang ilmu. Semua manusia diciptakan dalam keadaan sama yang tidak mengetahui sesuatu pun. Jangan merasa rendah diri dengan lemahnya kemampuan menghafal, lambat membaca atau cepat lupa.
Selain itu menjauhi maksiat adalah sebab paling utama dalam menguatkan hafalan dan memperoleh ilmu.

10. Terbiasa Menunda-Nunda

Yusuf bin Asbath rahimahullah mengatakan : ”Muhammad bin samurah pernah menulis surat kepadaku sebagai berikut : ” Wahai saudaraku janganlah sifat menunda-nunda menguasai jiwamu dan tertanam di hatimu karena ia membuat lesu dan merusak hati. Ia memendekkan umur kita, sedangkan ajal segera tiba… Bangkitlah dari tidurmu dan sadarlah dari kelalaianmu! Ingatlah apa yang telah engkau kerjakan, engkau perlekehkan, engkau sia-siakan, engkau hasilkan dan apa yang telah engkau lakukan. Sungguh semua itu akan dicatat dan dihisab sehingga seolah-olah engkau terkejut dengannya dan engkau sadar dengan apa yang telah engkau lakukan, atau menyesali apa yang telah engkau sia-siakan.” (6)

11. Belajar kepada Ahlul Bid’ah ( pada perkara usul )

Seorang penuntut ilmu tidak boleh belajar pada ahlul bid’ah karena ahlul bid’ah merasa ridha terhadap sesuatu yang menyelisishi agama Allah, seolah-olah ia mengatakan bahwa Allah Ta’ala belum menyempurnakan agama ini dan Rasulullah belum menyampaikan seluruh risalah.

12. Tergesa-gesa ingin memetik buah ilmu.

Seorang penuntut ilmu tidak boleh tergesa-gesa dalam usahanya memperoleh ilmu, karena belajar adalah proses seumur hidup. Terutama yang berkaitan dalam masalah agama tidak cukup dilakukan dalam waktu satu atau dua tahun belajar.
Imam Yahya bin Abi Katsir rahimahullah mengatakan,”Ilmu tidak bisa diperoleh dengan tubuh yang dimanjakan”

Imam Ibnu Madini rahimahullah mengatakan,”Dikataka n kepada Imam As-Sya’bi ’Darimana Anda peroleh semua ilmu ini?’ Beliau menjawab,’Dengan tidak bergantung pada manusia, menjelajahi berbagai negeri, bersabar seperti sabarnya benda mati, dan berpagi-pagi mencarinya seperti pagi-paginya burung gagak.”

Disarikan dari : Menuntut Ilmu Jalan Menuju Syurga, karya Yazid bin Abdul Qadir Jawas (Pustaka At-Takwa : 1428 H)

Catatan Kaki:
Hadist Shahih, diriwayatkan oleh ahmad, abu Dawud, attirmidzi, Ibnu Majjah dan Ibnu Hibban [1]
hadist shahih riwayat Al-Bukhari [2]
hadist shahih riwayat Thabrani [3]
HR.Bukhari-shahih [4]
Ishlaahul Masaajid minal Bida’ wal Awaa’id hal.110, karya al-Allamah Muhammad bin Jamaluddin al-Qasimi rahimahullah [5]
dari Iqtida al-Ilmi al’amal [6]


Dapatkan Mesej Bergambar di Sini

tawarannnnnnnnnnnn!!!!

alhamdulilah berkat doa guru2 ,abah ummi yg ku cinta akhirnya smpi surat tawaran tajaan amanah raya ke mesir..ak trus sujud syukr merafakkan setinggi-tinggi kesyukuran kepada allh s.w.t...ak berfikir sejenak hanya allah pennetu takdir...segala usaha kite lakukan,doa dan tawakkal dan seterusnya kite berserah kepada allah..
ak cbe mndptkn pndgn dri para asatizah, mudir maahad dan plaja2 mesir menyarankan agar ak menerime twrn...insyallah dijangkakan bulan 9 ak akan bertolak ke cne...
insyallah 26 mei akan diadakan majlis penyerahan biasiswa al azhar di hotel istana oleh pak menteri dato' mejar b jamil khir baharum..
jelas kelihatan dri wjah ibu bapa ku yg gembira ...penat lelah mereka tidak dapat ku bayang kan...mgkn inilah pemberian allah yg cukup terbaik untuk anaknya

insyallah ...pengajian disana selama 5 tahun...setaun sebagai pra al azhar..dan dalam masa inilah kami ditekan kan dengan kemahiran bahasa arab dri segi muhadsah,istima',kitabah...ak diberitahu bhawa tenaga pengajarnya adalah merupakn pensyarah lughah dri al azhar...
seterusya 4 taun kami akan melanjutkan pelajaran ke al azhar dalam dirasat islamiyah dan muamalat.kami akan belajar syariah,lughah,usul dan muamalat..
pengerusi amanah raya iaitu datuk dasuki ahmad amat menaruh harapan bahawa pelajar tajaan ini bkan shj bergelar ulam' dalam bidang agama tetapi mantop dalam pebankan dan kewangan islam..ak dikhabarkan bahawa malaysia bakal menjadi hab kewangan islam.
untuk itu beliau mahu melahirkan pakar2 dalam bidang iktisad islami..ak terfikr sejenak ...islam ini syumul...bkan hnye terletak kepada ibadah tetapi menliputi seluruh kehidupan manusia seperti muamalat,syiasah,ibadat dan sebagainya..sekarang umat islam sudah ketandusan ilmu...kalau dilihat pada zaman kegemilangan islam ibn sina,ibn rusd,al khawarizmi...mereka ini bkan sekadar mantap dalam bidang merke masing2 tetapi hafiz alquran...mantop dalam semua bidang...memetik kata tuan guru dato' nik abdul aziz bin nik mat yg mengatakan beliau mahu melahirkan pemimpin yg bukan sekadr boleh berpolitik,mentadbir tetapi mampu menegakkan islam pada tempatnya....

doakan ana ...


Dapatkan Mesej Bergambar di Sini

Wednesday, May 6, 2009

isu hak penjagaan anak

Kajian Berkenaan Hak Penjagaan Anak dan Status Agama Anak (Kes Mohd Ridzuan Abdullah@K. Patmanathan)

Syed Abdul Kadir Aljoofre, Hairul Nizam Mat Hussain, Abd Rahman Mohd Tharin, dan Mohd Nazrul Abd Nasir
MANHAL PMRAM*

www.iluvislam.com
Editor: ibn affandi



child custody
sekadar gambar hiasan


1. PENDAHULUAN

Isu pengislaman Saudara Mohd Ridzuan Abdullah atau K Patmanathan, 40, bekas penganut Hindu, telah menimbulkan satu polemik yang perlu dinilai dari sudut Syarak terhadap beberapa isu. Isu yang akan dibincangkan di sini adalah

1. Status agama tiga orang anak beliau iaitu Tevi Darsiny (12 tahun), Karan Dinesh (11 tahun) dan Prasana Diksa (1 tahun).
2. Hak penjagaan anak.
3. Status perkahwinan selepas pengislaman.


2. STATUS AGAMA ANAK-ANAK SELEPAS SALAH SEORANG PASANGAN SUAMI ISTERI MEMELUK AGAMA ISLAM

2.1 Pandangan Islam Terhadap Status Anak Apabila Hanya Salah Seorang Ibu Bapa Memeluk Islam.

Dalam menjelaskan status anak-anak selepas salah seorang ibu bapa memeluk Islam sedangkan pihak yang kedua tetap berada dalam agama asal, para fuqaha Islam telah berselisih pandangan kepada beberapa pandangan:

Pandangan Pertama:

Anak-anak adalah mengikut agama Islam sama ada yang memeluk Islam adalah bapa ataupun ibu.

Pandangan ini adalah pandangan yang dipegang oleh kebanyakan para fuqaha Islam daripada mazhab al-Hanafiyyah, al-Syafi`iyyah dan al-Hanabilah[1].

Maka berdasarkan kes yang berlaku, Tevi Darsiny (12 tahun), Karan Dinesh (11 tahun) dan Prasana Diksa (1 tahun) adalah diiktibar sebagai beragama Islam kerana mengikut agama yang dianuti oleh bapanya.

Hujah pandangan pertama ini adalah hadith Rasulullah yang berbunyi:

عَنْ عَائِذِ بْنِ عَمْرٍو الْمُزَنِيِّ عَنِ النَّبِيِّ قَالَ : (( الإسْلاَمُ يَعْلُوْ وَلاَ يُعْلَى )) . رواه البيهقي والدارقطني والروياني


Daripada A'idz bin Amr Almuzani, daripada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda : "Islam tinggi dan tiada yang lebih tinggi daripadanya."

Pandangan Kedua:

Anak-anak adalah mengikut agama Islam apabila yang memeluk Islam adalah bapa. Sekiranya yang memeluk Islam adalah ibu, anak-anak tidak dianggap beragama Islam.

Pandangan ini adalah pandangan yang dipegang oleh al-Imam Malik.

Hujah yang dipegang oleh al-Imam Malik adalah seseorang anak adalah dinasabkan kepada si ayah dan bukannya dinasabkan kepada si ibu. Maka kerana itulah keislaman si ayah sahaja yang akan menyebabkan si anak turut beragama Islam sebagai mengikut agama si ayah[2].

Maka berdasarkan kes di atas, Tevi Darsiny (12 tahun), Karan Dinesh (11 tahun) dan Prasana Diksa (1 tahun) adalah tetap diiktibar sebagai beragama Islam kerana mengikut agama yang dianuti oleh bapanya.

2.2 Cadangan Terhadap Penyelesaian Isu Ini

Berdasarkan kajian ringkas di atas, dapatlah disimpulkan bahawa anak-anak kepada saudara Mohd Ridzuan Abdullah adalah beragama Islam kerana mengikut agama Islam yang telah dianuti oleh beliau.

Namun disebabkan pihak isteri beliau masih beragama Hindu yang berkeras untuk menjaga anak-anaknya dan membesarkannya dalam agama Hindu, semestinya kenyataan kita untuk mengekalkan status ketiga-tiga anak mereka berdua sebagai beragama Islam akan menimbulkan satu ketegangan antara masyarakat Islam dan masyarakat bukan Islam secara umumnya.

Atas dasar ingin mencari jalan yang paling baik dengan meraikan pandangan-pandangan para ulama, kami mencadangkan perkara-perkara di bawah:

a) Menerangkan kepada masyarakat di Malaysia bahawa maksud anak-anak tersebut berstatuskan agama Islam adalah mereka bertiga dianggap sebagai seorang Islam sepanjang tempoh mereka belum lagi mencapai umur baligh. Status keislaman mereka sebelum tempoh baligh akan berkait rapat dengan pembahagian harta pusaka khususnya[3].

b) Apabila anak-anak tersebut telah mencapai umur baligh, mereka akan diberikan hak untuk memilih sama ada ingin memeluk agama Islam ataupun memeluk agama Hindu. Pandangan ini adalah pandangan yang dipegang oleh al-Imam al-Thauriyy[4].

c) Kami tidak mendapati sebarang masalah sekiranya nama ketiga-tiga anak saudara Mohd Ridzuan Abdullah dikekalkan dengan nama asal melainkan sekiranya makna nama mereka mengandungi unsur-unsur syirik dan makna-makna yang buruk.



3. HAK PENJAGAAN ANAK

3.1 Pendapat Ulamak

Para ulama di dalam keempat-empat mazhab membincangkan tentang perkara ini . Para ulama bermazhab Syafie dan Hanbali rahimahumullah meletakkan bahawa hak penjagaan mestilah kepada seorang Islam. Orang kafir tidak layak untuk mendapat hak penjagaan anak tersebut.

Manakala para ulama bermazhab Hanafi dan sebahagian ulama Maliki rahimahumullah tidak meletakkan Islam sebagai syarat untuk penjagaan. Ini bermakna jika penjaga tersebut (ibu atau bapa) salah seorang daripada mereka masih di dalam agama asal (non muslim) maka mereka masih boleh mempunyai hak untuk menjaga.

Ini berdasarkan kepada hadis Baginda Sallallahu Alaihi Wasallam yang diriwayatkan oleh al-Imam Abu Daud , al-Nasa'ie , Ibn Majah , Ahmad bin Hambal , al-Baihaqi , al-Hakim Naisaburi, Ibn Abi Syaibah rahimahumullah dan para ulama hadis yang lain . Baginda Sallallahu Alaihi Wasallam membenarkan untuk budak tersebut memilih dengan siapakah dia ingin tinggal, sama ada dengan ayahnya yang Muslim atau Ibunya yang Non-Muslimah. Ini kerana hak penjagaan adalah atas rasa belas kasihan dan ianya tidak menjadi masalah walaupun berbeza agama. Nas hadis tersebut adalah seperti berikut:

حدثنا عبد اللَّهِ حدثني أبي ثنا هُشَيْمٌ ثنا عُثْمَانُ أبو عَمْرٍو البتي عن عبد الْحَمِيدِ بن سَلَمَةَ أَنَّ جَدَّهُ أَسْلَمَ في عَهْدِ رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ولم تُسْلِمْ جَدَّتُهُ وَلَهُ منها بن فَاخْتَصَمَا إلى رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فقال لَهُمَا رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ان شِئْتُمَا خَيَّرْتُمَا الْغُلاَمَ قال وَأَجْلَسَ الأَبَ في نَاحِيَةٍ وَالأُمَّ نَاحِيَةً فَخَيَّرَهُ فَانْطَلَقَ نحو أُمِّهِ فقال رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم اللهم اهْدِهِ قال فَرَجَعَ إلى أبيه



Maksud: Diriwayatkan daripada Saidina Abdul Humaid bin Salamah radhiyallahu anhuma bahawa datuknya telah memeluk Islam pada zaman Baginda Sallallahu Alaihi Wasallam, tetapi neneknya enggan. Hasil perkahwinan mereka, dikurniakan seorang anak. Mereka berdua datang mengadu kepada Baginda sallallahu alaihi wasallam (berkenaan hak penjagaan terhadap budak tersebut). Sabda Baginda Sallallahu Alaihi Wasallam kepada mereka berdua : Jika kamu berdua mahu, budak tersebut akan diberikan pilihan untuk memilih kamu berdua. Kata Abdul Humaid bin Salamah : Si ayah diletakkan di suatu sudut, dan si ibu juga diletakkan di suatu sudut, maka budak tadi diberi pilihan . Didapati budak tersebut bergerak ke arah ibunya.Maka Baginda sallallahu alaihi wasallam berdoa: Ya Allah berikanlah hidayah kepadanya. Kata Abdul Humaid bin Salamah :Maka budak tersebut kembali kepada ayahnya (mengikut ayahnya).[5]


Tetapi para ulama di dalam mazhab Hanafiyah dan Malikiyah berbeza pendapat pula berapa lamakah tempoh budak tersebut perlu berada di bawah penjaganya yang bukan Islam:

1) Ulama Hanafiyah berpendapat : Kanak-kanak tersebut boleh berada di bawah jagaan penjaga yang bukan Islam sehinggalah dia mampu berfikir tentang keagamaan(iaitu setelah mencapai umur 7 tahun). Hak penjagaan juga akan tamat jika budak tersebut tidak terjamin keselamatan agamanya jika berada bersama penjaga tersebut(seperti dibawa ke tempat ibadah mereka, budak tersebut mempelajari perkara berkaitan agama penjaga tersebut, diberi minum arak atau memakan makanan yang haram)

2) Ulama Malikiyah berpendapat: Kanak-kanak tersebut boleh berada di bawah jagaan penjaga yang bukan Islam tersebut sehinggalahtamat waktu hak penjagaan[6]. Tetapi penjaga tersebut perlu menjaga hak-hak penjagaan terhadap budak tersebut seperti tidak memberi makanan yang haram dan memberi minum arak kepadanya. Tetapi jika dikhuatiri akan berlaku perkara tersebut maka hak penjagaan tersebut perlulah diberikan kepada golongan Muslimin demi menjaga budak tersebut daripada kesesatan[7].

3.2 Cadangan Terhadap Kes Yang Berlaku

1) Berdasarkan pendapat para ulama yang kita telah bincangkan, anak kepada Mohd Ridzuan bin Abdullah @ K Patmanathan, 40 tahun iaitu Tevi Darsiny (12 tahun) dan Karen Danish ( 11 tahun ) tidaklah dibenarkan untuk berada dibawah penjagaan si isteri yang enggan memeluk Islam. Ini kerana, keadaan kedua-dua anak mereka jika berada di bawah jagaan ibu sahaja dibimbangi persekitaran yang tidak baik akan mempengaruhi mereka.

2) Manakala anak yang ketiga iaitu Prasana Diksa (1 tahun), dibenarkan untuk berada di bawah jagaan si ibu (dengan syarat diadakan giliran antara ibu dan bapa) berdasarkan pendapat yang disebutkan oleh Mazhab Hanafiyah dan Malikiyah. Ini kerana Prasana Diksa masih kecil dan belum mencapai umur yang memungkinkan untuknya berfikir tentang keagamaan. Ini juga menunjukkan bahawa Islam bukanlah agama yang bersikap kuku besi yang menghalang secara semberono hak individu.


4. STATUS PERKAHWINAN SELEPAS PENGISLAMAN SALAH SEORANG SUAMI ISTERI

4.1 Pendapat Para Ulama

Syariah Islam menetapkan, apabila seorang suami memeluk Islam, maka si isteri juga perlu diminta untuk memeluk Islam. Jika si isteri memeluk Islam di dalam tempoh ‘iddahnya, maka perkahwinan tersebut boleh diteruskan seperti biasa(tanpa perlu diperbaharui akad nikahnya). Islam bukanlah satu agama yang memecah belahkan institusi kekeluargaan, bahkan Islam itu sendiri mengajar ummatnya untuk membina sebuah keluarga yang bahagia. Perbezaan agama antara suami dan isteri bukanlah penghalang kepada ikatan pernikahan mereka, tetapi keengganan si isteri untuk berbuat demikian menyebabkan berlakunya perpisahan [8].

Keempat-empat mazhab Islam iaitu Hanafi, Maliki, Syafie, dan Hambali menetapkan perkahwinan mereka berdua akan terfasakh[9]. Para ulamak hanya berselisih pendapat dari sudut bilakah waktu fasakh itu berlaku, samaada daripada saat pengIslaman suami atau saat isteri enggan memeluk Islam. Perpisahan tersebut akan berlaku melalui kuasa qadhi[10].

Fasakh atau perpisahan tersebut bukan bermakna si suami meninggalkan tanggungjawabnya ke atas isteri dan anak-anaknya dari sudut nafkah dan perbelanjaan. Islam sangat menjaga hak setiap manusia samaada Muslim atau Non Muslim. Perpisahan yang berlaku di antara pasangan suami isteri disebabkan perbezaan agama tidak menggugurkan kewajipan suami kepada isterinya dan anak-anaknya.

4.2 Hak Pemberian Nafkah[11]

1. Nafkah kepada anak

a. Si ayah wajib memberikan nafkah dan keperluan kepada anak-anaknya selagi mana mereka masih kecil sehingga mampu berdikari sendiri jika anak tersebut adalah anak lelaki. Manakala bagi anak perempuan, bapa perlu memberi nafkah kepadanya sehingga anak tersebut berkahwin sahaja.


2. Nafkah kepada isteri

a. Suami wajib memberi nafkah kepada isteri tersebut selama mana di dalam tempoh ‘iddah sahaja.


Ini jelas menunjukkan hujah yang mengatakan bertukar agama adalah satu cara untuk lari daripada tanggungjawab adalah hujah yang amat dangkal. Ini kerana Islam sama sekali tidak memberikan ruang kepada penganutnya untuk lari atau cuai menunaikan tanggungjawab masing-masing.

*************


Hasil Kajian:

Al-Fadhil Ustaz Syed Abdul Kadir Aljoofre (Pengerusi Fellow MANHAL PMRAM, dan juga Ketua Moderator Agama Forum Iluvislam.com)

Al-Fadhil Ustaz Abd Rahman Mohd Tharin (Moderator Agama Forum Iluvislam.com)

Al-Fadhil Ustaz Hairul Nizam Mat Hussain

Al-Fadhil Ustaz Mohd Nazrul Abd Nasir


*Note: Artikel ini adalah HakCipta Markaz Pengumpulan Kajian dan Hasil Penyelidikan Persekutuan Melayu Republik Arab Mesir (MANHAL PMRAM). Artikel asal di SINI


[1] Sila lihat al-Mawsu`ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaytiyyah 4/270.

[2] Sila lihat al-Mawsu`ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaytiyyah 4/270.

[3] Sebagaimana yang dimaklumi, apabila anak-anak tersebut berstatuskan Islam, mereka berhak mewarisi harta saudara Mohd Ridzuan Abdullah kerana persamaan agama antara pihak ayah dan anak-anak. Walau bagaimanapun sekiranya anak-anak tersebut meninggal dunia sebelum mereka mencapai umur baligh, maka berdasarkan pandangan Islam jenazah mereka akan diuruskan sebagai seorang Muslim. Ini dijangka akan menimbulkan satu lagi masalah perebutan jenazah antara si isteri yang beragama Hindu dan si ayah yang beragama Islam.

[4] Sila lihat al-Mawsu`ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaytiyyah 4/271. Para pembaca perlu menyedari bahawa pandangan yang kami pilih ini bukanlah pandangan majoriti ulama Islam.

Adapun pandangan majoriti ulama Islam, anak-anak tersebut secara automatik akan menjadi seorang muslim sebaik sahaja si ayah memeluk agama Islam. Sekiranya anak-anak tersebut setelah baligh memilih untuk tidak beragama Islam, berdasarkan pandangan majoriti ulama, mereka akan menjadi murtad.

Pandangan al-Thauri yang kami pilih ini adalah semata-mata memikirkan situasi masyarakat non Muslim di Malaysia yang mungkin tidak akan dapat menerima keputusan bahawa kesemua anak-anak terbabit hendaklah beragama Islam. Sekurang-kurangnya dengan berpegang pandangan al-Thauri, masyarakat non Muslim dapat menerima keputusan kerana hak untuk memilih agama diserahkan kepada anak-anak tersebut selepas mereka baligh.

[5] Musnad al-Imam Ahmad bin Hambal, hadis 23807 jilid 5 mukasurat 446 Darul Nasyr, Muassasah Qurtubah

[6] Bagi budak perempuan, hak penjagaan terhadapnya ialah sehingga dia berkahwin, manakala bagi budak lelaki pula hak penjagaan terhadapnya ialah sehingga dia baligh.

[7] Fiqh al-Islami wa Adillatuhu jilid 7 mukasurat 727-728 cetakan Darul Fikr Cetakan Kedua 1985

[8] Bada'ie Sana'ie, Imam al-Kasani, m.s 1558 jilid 3.

[9] Mughniyul Muhtaj, Khotib as-Syarbini, m.s 244 jilid 3.

[10] Fiqhul Islami Wa Adilatuh, Dr. Wahbah Az-Zuhaili, m.s 7163 jilid 9.

[11] Al-Mughni, Imam Ibn Qudamah, m.s 402 - 409, jilid 7.

Glosari:

Fuqaha- kata jamak untuk Faqih, seorang yang pakar dalam ilmu fiqh; golongan pakar Fiqh
Fasakh- memutuskan pernikahan, perkara ini hanya boleh diputuskan apabila pihak isteri membuat pengaduan kepada Mahkamah dan Hakim mensabitkannya setelah perbicaraan
Iddah- suatu tempoh selepas penceraian bagi si perempuan sebelum dia boleh berkahwin lagi sekali.

budak ajaib






begitu allah s.w.t mahu menunjukan kekuasannya kepada kita.kite lihat bdk sekecil ini diberikan taufiq,hidayag dan inayah drp allah untuk membolehkan beliau memberi peringatan dan tazkiarah serta pedoman kepada semua manusia...ini menunjukkak kekusaan allah..tiada yang mustahil bagi allah..dialah yg berhak membuat apa sahaja mengikut kehendak nya...moga2 kita berada dalam saff ataupun golongan yg benar.walaypun kite lihat pada zaman ini dunia dilanda dengan pelbagai masalah,ancaman mahupun cabaran.walhal kite lupa allah yg menentukan.firman allah yg mafhumnya sesungguhnya allah tidak mengubah sesuatu kaum itu sehingga dia mengubah dirinya sendiri.

Sunday, May 3, 2009

cerita tentang wahabi

Pengenalan

Fahaman Wahabi ini terlalu kerap ditimbulkan oleh pelbagai pihak samada dari golongan muda ataupun golongan tua. Sejak sekian lama juga saya sering kali ditanyakan isu-isu berkaitan fahaman Wahabi. Pelbagai persoalan diajukan kepada saya samada melalui Email dan YM ataupun melalui PM(Private Message) di iLuvislam.com. Di antara mereka ini ada yang meminta saya untuk menyediakan sedikit sebanyak info dan maklumat berkaitan dengan fahaman Wahabi ini. Di samping itu, saya juga tidak terlepas dari menerima kritikan dan cemuhan dari golongan Wahabi setiap kali saya berhujjah dan berbincang dengan mereka.

Di sini saya cuba memberikan beberapa maklumat untuk dijadikan panduan untuk sahabat-sahabat semua bagi mengenali fahaman Wahabi. Tujuan utama saya menulis dan menyediakan artikel ini bukanlah bertujuan untuk mencari gaduh dengan golongan Wahabi akan tetapi penyediaan artikel ini adalah perbincangan yang sempat ditulis semula. Artikel ini juga saya sediakan secara ringkas dan ia masih memerlukan beberapa penerangan dan penjelasan lebih lanjut lagi. Ini bukanlah suatu tuduhan melulu tanpa periksa namun inilah cerita sebenarnya. Bagi mengukuhkan lagi kepercayaan peribadi, pembaca bolehlah menyemak sendiri kitab-kitab yang telah dikarang oleh para ulama muktabar bagi membincangkan fahaman Wahabi ini.

Tujuan utama saya menulis dan menyediakan artikel ini bukanlah bertujuan untuk mencari gaduh dengan golongan Wahabi akan tetapi penyediaan artikel ini adalah perbincangan yang sempat ditulis semula. Artikel ini juga saya sediakan secara ringkas dan ia masih memerlukan beberapa penerangan dan penjelasan lebih lanjut lagi. Ini bukanlah suatu tuduhan melulu tanpa periksa namun inilah cerita sebenarnya.


Cara Mengenali Golongan Ini

Antara cara-cara mudah mengenali mereka samada berfahaman Wahabi ataupun tidak ataupun terkena sedikit tempias dari fahaman Wahabi adalah:

Dari Sudut AQIDAH:

01. Gemar membahagikan-bahagikan tauhid kepada tiga bahagian iaitu Tauhid Rububiyah, Uluhiyah dan al-Asma Wa al-Sifat lantas menyamakan umat Islam kini dengan musyrikin Mekah.

02. Menyesatkan manhaj Asyairah dan Maturidiyah yang merupakan dua komponen utama dalam Ahli Sunnah Wal Jamaah.

03. Kritikal terhadap sisitem pengajian Sifat 20.

04. Gemar membahaskan ayat-ayat mutasyabihat dan membahaskan perihal istiwa Allah Taala, tangan Allah Taala, di mana Allah Taala dan lain-lain ayat mutasyabihat lagi lantas memahami ayat-ayat itu dengan zahir ayat dan mencerca mereka yang mantakwil ayat-ayat ini. Akhirnya mereka secara tidak sedar termasuk di dalam golongan Mujassimah dan Musyabbihat.

05. Sering meletakkan isu-isu fiqh dalam bab aqidah, seperti tawasul dan istighatsah lantas mensyirikkan dan mengkafirkan amalan-amalan yang tidak sehaluan dengan mereka. Juga mensyirikkan amalan yang tidak dipersetujui contohnya mambaca salawat syifa dan tafrijiah dan lain-lain.

06. Mudah melafazkan kalimah syirik dan kufur terhadap amalan yang mereka tidak persetujui (Khawarij Moden).

07. Amat kritikal terhadap tasawuf serta tarikat dan mengatakan bahawa tasawuf dan tarikat diambil daripada ajaran falsafah Yunan, agama Buddha dan dll.

Dari Sudut FIQH:

01. Kritikal terhadap mazhab-mazhab fiqh dan menganggap sesiapa yang berpegang kepada satu mazhab adalah taksub dan jumud. Mereka akan menyarankan mengikut fiqh campuran atas corak pemahaman mereka dan menamakannya sebagai Fiqh Sunnah.

02. Membahagikan manusia kepada tiga golongan iaitu mujtahid, muttabi dan muqallid dan mencerca golongan muqallid. Bagi mereka hanya menyeru kepada mengikut seorang alim atau imam itu hanyalah dengan dalil walaupun pada hakikatnya mereka tidak memahami dalil tersebut.

03. Gemar membangkitkan isu-isu furuk yang sudah lama diperbahaskan oleh para ulama terdahulu seperti isu tahlil, talqin, qunut subuh, zikir berjamaah, zikir dengan bilangan tertentu, lafaz niat solat, ziarah makam para nabi dan ulama, sambutan maulidur rasul dan lain-lain.

04. Perkataan bidaah sentiasa diulang-ulang pada perbuatan yang mereka tidak setuju. Bidaah di dalam agama bagi mereka hanyalah sesat dan akan menjerumuskan pembuatnya ke dalam neraka. Kata-kata Imam Syatibi pada pembahagian bidaah akan mereka ulang-ulangi. Menurut fahaman mereka pembahagian ulama lain pada bidaah hanyalah bidaah dari sudut bahasa.

05. Wahabi secara umumnya mengaitkan amalan-amalan tertentu kononnya sebagai rekaan dengan hawa nafsu atau kejahilan para ulama terdahulu manakala Wahabi di Malaysia cuba mengaitkan amalan yang mereka tidak persetujui hanyalah rekaan para ulama Nusantara.

06. Hanya berpegang kepada suatu pendapat dalam hukum hakam fiqh jika mempunyai dalil yang zahir dan amat gemar meminta dalil dari al-Quran dan al-Hadis seolah-olah mereka dapat membuat perbandingan sendiri kuat lemahnya sesuatu pendapat berdasarka dalil yang dijumpai.

Dari Sudut MANHAJ:

01. Berlebih-lebihan pada mengkritik mereka yang tidak sehaluan dengan mereka baik ulama terdahulu mahupun sekarang.

02. Menganggap bahawa hanya mereka sahajalah yang benar dan merekalah sahajalah pembawa manhaj salaf yang sebenar.

03. Bersikap keras kepala dan enggan menerima kebenaran walaupun dibentangkan beribu-ribu hujjah. Bagi golongan Wahabi dalil mereka yang menentang mereka semuanya lemah atau telah dijawab.

04. Amat gemar berdebat walau di kalangan masyarakat awam.

05. Terlalu fanatik kepada fahaman dan tokoh-tokoh yang mereka diiktiraf mereka seperti Muhammad Abdul Wahab, Abdul Aziz bin Baz, Nasir al-Albani, Muhammad Soleh al-Utsaimin, Soleh Fauzan dan lain-lain.

06. Mudah mengatakan bahawa ulama terdahulu sebagai silap ataupun sesat dan lain-lain.

07. Mendakwa mereka mengikut manhaj salafi pada urusan aqidah dan fiqh walaupun hakikatnya mereka amat jauh sekali dan tidak memahaminya.

08. Cuba untuk menyatukan semua pihak atas fahaman mereka lantas menyebabkan perpecahan umat.

09. Sebahagian mereka juga bersikap lemah lembut pada kuffar dan berkeras pada umat Islam.

10. Menyesatkan dan memfasiqkan sesiapa yang bercanggah dengan mereka serta melebelkan dengan pelbagai gelaran.

11. Seolah-olah menyamatarafkan hadis dhoif dengan hadis maudhuk lantas mendakwa mereka hanya mengikut hadis yang sahih selain kritikal terhadap penerimaan riwayat dan taasub dengan penerimaan atau penolakan Nasir al-Albani semata-mata.

12. Membuat khianat ilmiah samada pada penulisan atau pada pantahqiqan kitab-kitab lama terutamanya.

Penutup

Hampir keseluruhan artikel ini saya ambil dari kertas kerja yang pernah disediakan dan dibentang sendiri oleh sahabat saya iaitu Ustaz Syed Abdul Kadir bin Syed Hussin Aljoofre(ketua moderator agama iLuvislam.com, graduan sarjana perbandingan mazhab, Universiti Al-Azhar).

Cuma beberapa perkara sahaja saya buang dan tambah agar lebih natural untuk dibaca. Semoga penulisan ini menjawab pelbagai persoalan mengenai fahaman Wahabi ini dan ia boleh membawa manfaat kepada umat Islam sejagat. Saya doakan agar semua pihak mendapat hidayah dari Allah Taala. Aminnn.

Dapatkan mesej bergambar. Klik sini.

* Ustaz Buluh @ Muhammad Rashidi Bin Haji Wahab merupakan salah seorang moderator agama iLuvislam.com. Beliau aktif dalam pergerakan mahasiswa di Universiti Al-Azhar, Mesir. Biodata penuh beliau boleh di baca melalui link di bawah:

http://buluh.iluvislam.com/?page_id=2

huhu.....

Bukan mudah Ya ALLAH…
Berdiri di tangga kemewahan, kenikmatan dan kesenangan
Keindahan dunia ini menganggu ku
Kemanisan hubbu dunya ini mencarik-carik imanku
Dimanakah aku tanpa kecintaan padaMU

Aku runsing Ya ALLAH
Aku berlari ke sana dan ke sini
Aku mencari dan terus mencari
Dimanakah ku tagih cinta Ilahi
Bagaimana harus ku bayar nikmat yang Kau beri
Sedang aku tidak diuji
Maka saat aku tidak diuji, adalah ujian yang terbesar sekali
Andai bisa aku berbicara denganMU
Dan ku harap Kau mendengar pengaduanku
Sungguh aku bukan bercakap kosong
Inilah keluhan hatiku
Yang merindu cinta MU, yang mengharap keredhaan MU….

Ampuni aku Ya ALLAH
Aku lemah lagi tak bermaya
Melawan sesuatu yang digelar fana dunia
Aku tak mampu Ya ALLAH,
Belenggu ini menghimpit ku…
Belenggu ini menghiburkan hatiku
Sehingga aku senang denganya
Sehingga aku takut kehilanganya
Sedang cintaMU itu sangat luar biasa…
Sedang cintaMU itu lebih dari segala-galanya…

Sungguh aku tak layak Ya ALLAH menghampiri syurgaMU
Dan pasti menggeletarlah seluruh tubuhku mendengarkan api nerakaMU
Lalu ke manakah langkahku
Selayaknya dimanakah tempatku
Atas redhaMU ya Rabbi..
aku hanya menuruti
Andai aku diseksa, kan aku patuhi
Asalkan Kau meredhai hidupku ini

Terima Kasih Ya ALLAH kerana sudi menyayangi diri ini
Terima Kasih Ya ALLAH kerana sering mendengar pengharapan serta pengaduanku
Terima Kasih Ya ALLAH kerana sering bersama-sama denganku,
tak kira apa keadaan imanku
Sesungguhnya Ya ALLAH,
cinta ku hanya milikMU…